Semangat Persaudaraan

  • Bagikan

“Sesungguhnya orang mukmin adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah SWT supaya kamu mendapat rahmat”. (QS. Al Hujarat : 10).

TIdak ada yang paling indah dalam kehidupan manusia kecuali mempunyai sahabat dalam iman.

Betapa kentalnya nilai persaudaraan yang disambung tali iman ini, telah dibuktikan oleh para ├ánggauta jamaah Rasulullah yang sekaligus sebagai bingkai kaca untuk bercermin dan menata kehidupan masyarakat Islam yang Qur’ani.

Persaudaraan iman inilah yang menjadikan menyatunya rasa, karsa dan cinta dalam jamaah, yang mampu membongkar segala taa’sub (kebanggaan golongan), keturunan, ras dan kebanggan kelompok lainya.

Tetapi cobalah raba hati dan keadaan kita sekarang ini, betapa umat Islam tercabik-cabik menjadi santapan orang atau pihak lain.

Justru kuncinya terletak dari hilangnya nilai persaudaraan iman ini diantara kita yang mengaku sebagai umat Islam.

Pelita hikmah tentang seruan Allah “Innamal Mukminuna Ikhwatun” (sesungguhnya orang mukmin itu bersaudara) telah lenyap ditelan gemuruhnya pidato dengan gaya retorika yang memikat, tetapi sekali lagi semuanya hanyalah pernyataan-pernyataan hampa bukan kenyataan !

Organisasi atau partai yang semula ideal diangggap sebagai alat untuk menampung aspirasi program dan rencana pembangunan umat, justru menjadi alat pembunuh persaudaraan.

Hanya berbeda partai atau organisasi terkadang kita menjadi berfikir hitam putih – black and white, sikap kebersamaan telah lenyap digasak kebanggaan kelompok yang mencuat secara dominan adalah sikap keakuannya (ananiyah).

Bahkan bisa jadi kelihatannya mereka bersatu, padahal hatinya tak pernah berjumpa, tidak ada meeting of mind, kelihatannya berjamaah padahal hatinya telah lama berpisah.

Kejayaan umat akan tampil kembali dipanggung dunia ini, apabila kita mau melebur diri dalam satu jamaah yang didalamnya berkumpul kaum mukmin yang maju menundukkan dunia secara bershaf, berkepribadian luhur sesuai dengan citra Qur’ani, yaitu barisan yang tangguh bagaikan benteng yang kokoh.

Kita sangat mafhum, bahwa masing-masing dari kita telah sama-sama bekerja dalam syi’arul dakwah.

Tetapi sayang belum untuk bekerja sama ! Padahal inti menuju bekerja sama ini, hanyalah Qur’an sebagai sumber berpijak dan tindakan, serta Sunnaturasul sebagai referensi untuk menunjukkan sikap hidup kita sesuai dengan sunnah.

Semangat sami’na wa atha’na tidak boleh pudar, betapapun hebatnya otak kita.

Karena, apalah artinya isi otak yang hanya beberapa sentimeter kubik, dibandingkan dengan kebesaran alam semesta hasil ciptaan Sang Maha Perkasa itu.

Kebersamaan sebagai salah satu buah persaudaraan mutlak berada di lubuk hati masing-masing.

Setiap anggota jamaah merasa larut, merasa satu wujud karena nilai iman telah melebur dan sekaligus meruntuhkan segala perbedaan artifisial.

Mereka yang mendambakan bunga dan buah persaudaraan serta mau duduk sebagai anggota jamaah ini, tidak ada satupun sekat atau tabir yang akan menyebabkan tumbuhnya prasangka serta sikap mereka satu sama lainnya adalah transparan, sehingga tidak ada satu lembar benangpun yang dia sembunyikan dihadapan saudaranya.

Sikap seperti inilah yang menyebabkan para anggota jamaah itu merasa aman dan damai, ibarat ikan dalam air, mereka tak hendak lagi keluar dari kolam jamaah.

Cinta kasih, kelembutan, sopan santun serta tanggung jawab diantara sesama anggota muslim ini, merupakan ciri khas yang paling menonjol dalam pribadi anggota jamaah.

Nashrum minallahi wa fathun qariib wa basysyiril mukminin

Wallahu a’lam bish shawab.

Penulis :
Alumni 79′ Pelajar Al-Qismul’aly Al Washliyah, Isma’iliyah, Medan.
Guru Madrasah Al Washliyah Darul Aman Medan, 1979-1983.
Sekretaris Pimpinan Wilayah Al Washliyah Prov. Nusa Tenggara Barat, 1996-2001.
Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Al Washliyah Prov. Nusa Tenggara Barat, 2019-2024.

  • Bagikan