Sambut Pertemuan Budaya G20, PRIMA: Kita Ingin Indonesia Bicara Lebih Keras Soal Ketidakadilan Dunia

  • Bagikan
AJ Susmana, Wakil Ketua Umum Bidang Kebudayaan PRIMA (foto:berdikarionline.com)

JAKARTA – Partai Rakyat Adil Makmur (PRIMA) angkat bicara merespon Jalan Kebudayaan yang akan ditawarkan Kemendikbudristek pada pertemuan G20 Bidang Kebudayaan, September mendatang.

Wakil Ketua Umum Bidang Kebudayaan Partai Rakyat Adil Makmur (PRIMA) AJ Susmana menyampaikan bahwa Pertemuan G20 sering mendapatkan kritik dan protes sebab dianggap sebagai ajang legitimasi jalan kapitalisme global yang menyebabkan kemiskinan global tetap bertahan dan merajalela.

Menurutnya, negara-negara yang bergabung dalam G20 terdiri dari dua unsur yaitu negara maju dan berkembang dengan penduduk yang berjumlah banyak yang seakan merepresentasikan mayoritas jumlah manusia di bumi.

Dua unsur tersebut, kata dia, menunjukkan ketimpangan dan ketidakadilan bila G20 hanya menjadikan negara-negara berkembang sebagai sandaran sebagaimana praktiknya selama ini.

“Kemiskinan, ketidaksetaraan, ketidakadilan, harusnya tetap menjadi isu pokok, utama dan prioritas dan dengan Presidensi Indonesia di G20 kali ini, Indonesia berkesempatan untuk menggaungkan lebih keras. Kalau tak ada keadilan,  tentu bukan pulih bersama dan pulih lebih kuat yang didapat tetapi bisa jadi bunuh diri bersama,” ujar AJ Susmana.

Menurutnya, kita wajib belajar dari cerita bijak angsa yang terlahir dengan dua kepala. Dimana kepala di atas selalu bisa memakan buah-buahan segar dan makanan bergizi lainnya, sementara kepala bawah selalu hanya bisa memakan sisa dari kepala di atas.

“Suatu hari, kepala di bawah berkata kepada kepala di atas untuk diberikan buah segar yang letaknya diatas. Kata dia, jangan hanya mendapat sisa gigitan dari kepala atas atau buah-buahan busuk saja.Tetapi kepala di atas tidak menggubris dan tidak peduli. Bahkan sampai ketika kepala di bawah mengancam akan memakan buah beracun yang bisa menyebabkan kematian bersama. Kepala di atas terkejut akan kenekatan kepala di bawah. Tetapi sudah terlambat. Kepala di bawah memilih memakan buah beracun,” cerita AJ Susmana.

Dirinya berpendapat bahwa akan sangat baik bila kebudayaan bisa berperan untuk memulihkan kondisi dunia dan menjadi jalan strategis.

“Melalui pertemuan Budaya G20 itu, sangat diharapkan bila Kemendikbudristek  memajukan dan mendorong  agar budaya lokal atau budaya nasional di masing-masing negara G20 menjadi landasan bagi pemajuan budaya global yang berkelanjutan yang melestarikan bumi, menjunjung  tinggi kemanusiaan, merespek Hak Asasi Manusia, melahirkan keadilan sosial ekonomi untuk menuju dan menjaga kebahagiaan bersama,” pungkas AJ Susmana.

  • Bagikan