Puasa Menghidupkan Kembali Cahaya Iman Yang Meredup

  • Bagikan
Ilustrasi

RELIGI – “Dengan mengerjakan apa yang baik dan mengurangi apa yang buruk, diharapkan cahaya iman yang mungkin sebelas bulan lalu meredup, bisa bersinar kembali.” [Ulama].

Puasa atau shiyam dalam bahasa Al-Qur’an berarti menahan diri. Ibadah puasa di lakukan di bulan Ramadan, maka ibadah puasa disebut juga sebagai Ramadan.

Ramadan ditinjau dari makna generik (dasar)nya berarti membakar atau mengasah. Dinamai demikian, menurut M. Quraish Shihab [Lentera Hati, 1998, hlm. 170].

Karena pada bulan ini semua dosa manusia menjadi pupus habis dibakar, akibat kesadaran dan amal salehnya.

Juga, karena bulan tersebut dijadikan sebagai momentum untuk mengasah dan mengasuh jiwa manusia.

Bulan Ramadan sering diibaratkan sebagai tanah subur yang siap ditaburi benih-benih kebajikan.

Semua orang dipersilakan untuk menabur, kemudian pada waktunya menuai hasil sesuai dengan benih yang ditanamnya.

Bagi yang lalai, tanah garapannya hanya akan ditumbuhi rerumputan yang tidak berguna dan tak ada manfaatnya.

Di dalam bulan mulia ini, Nabi Muhammad SAW menganjurkan agar kaum Muslimin selalu mengadakan instrospeksi diri, agar apa yang salah di masa sebelas bulan lalu dapat dimohonkan ampunan di satu bulan ini, dan apa yang baik di masa sebelas bulan dapat ditingkatkan dan dimantapkan kembali di satu bulan ini.

Dengan mengerjakan apa yang baik dan mengurangi apa yang buruk, diharapkan cahaya Iman yang mungkin sebelas bulan lalu meredup, bisa bersinar kembali.

Dalam istilah sehari-hari dikatakan, membenahi yang berkurang dan mengurangi yang berlebih” adalah pekerjaan manusia cerdas.

Puasa tidak saja bermakna kepatuhan pribadi kepada sang khalik, tetapi ia juga bermakna kepatuhan sosial kepada sesama umat manusia.

Kepatuhan sosial diberikan tatkala seseorang merasakan lapar dan dahaga, di sana dia belajar merasakan derita jasmani yang setiap hari dinikmati oleh mereka yang tak berpunya.

Puasa pula yang mampu membunyikan lonceng kematian bagi segenap keangkuhan pribadi tatkala seseorang merasakan ia telah lebih dari sesamanya, maka sebenarnya ia sedang berperang melawan dirinya sendiri [jihadul akbar].

Aallahu a’lam bis shawab.

  • Bagikan