BONTANG- Lima hari berjalan Kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat di Kota Bontang dikeluhkan driver ojek online (ojol).
Pasalnya penyekatan yang dilakukan di enam titik jalan protokol Bontang, membuat ojol harus menempuh jalur alternatif demi mengantarkan pesanan kepada pelanggan.
“Sebenarnya, kebijakan ini membuat kami cukup kewalahan, kadang saat melakukan pengantaran pesanan kepada pelanggan, kami tidak diperbolehkan untuk lewat di pos penyekatan,” kata Adjie salah satu driver ojol saat ditemui awak media Jumat (16/7/2021).
Meski ada petugas yang membiarkan lewat bagi para pengendara ojol. Tetapi dengan alasan dan bukti yang jelas.
“Tidak semua petugas yang melarang, ada saja yang baik, tapi syaratnya memperlihatkan barang,daftar pesanan dan alamat pembeli yang tercatut di aplikasi ojol,” sambungnya.
Saat disinggung soal pemasukan selama PPKM darurat. Pihaknya mengatakan tidak ada peningkatan yang signifikan. Sama saja seperti awal awal Covid-19 merambah Kota Bontang.
“Pokoknya semenjak Covid-19 ada di Bontang penghasilan kian menurun drastis, kadang cuman 50 ribu perhari. Tapi sebelum ada Covid-19 kami bisa meraup rezeki 200 ribu,” tuturnya.
Tidak hanya ojek online, para pelaku kurir biasa pun mendapatkan dampak yang cukup besar.
Bagaimana tidak mereka yang hanya mengandalkan transaksi melalui telpon seluler pun harus memutar untuk mencari jalan alternatif.
“Karena tidak memakai aplikasi, jadi tidak boleh lewat meski membawa barang bawaan untuk pelanggan. Jadi harus memutar meski tidak jauh,” kata Jamal, salah satu kurir barang.
Pihaknya juga berharap ada kompensasi khusus bagi pelaku kurir yang tidak memiliki aplikasi untuk tetap bisa melewati titik penyekatan.
Karena semua pastinya terdampak dan hanya mengandalkan profesi ini untuk bertahan hidup.
“Harapanya bisa dapat kelonggaran, tohjuga kami tetap melaksanakan protokol kesehatan dengan ketat,” pungkasnya. (*)