Pesan dan Nasehat Rasulullah Untuk Sang Pemimpin

  • Bagikan
ASWAN NASUTION

“Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Ali-‘Imran : 26).

__________________________________

ISLAM sendiri sangat menekankan perlunya keteladanan dari para pemimpin.

Al-quran menegaskan bahwa seorang pemimpin akan diminta pertanggungjawaban terhadap kepemimpinannya.

Dalam hal ini adalah kepemimpinan yang tidak terbatas, siapa saja namanya pemimpin baik pemimpin satu negara, pemimpin satu bangsa, pemimpin partai, pemimpin organisasi, pemimpin perusahaan, pemimpin keluarga dan lain-lainnya yang terkait dengan pemimpin.

Karena itulah Nabi SAW seringkali menyatakan bahwa Beliau sendiri tidak akan melarang sesuatu sebelum Beliau sendiri yang pertama mematuhinya.

Sebaliknya, Beliau juga tidak akan menyuruh melakukan sesuatu kebajikan, sebelum beliau sendiri melakukannya.

Dalam kaitan ini, ada satu kisah menarik yang patut disimak. Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab ada seorang raja dari sebuah negara kecil di Syam (Syiria) yang baru masuk Islam. Namanya Jablah bin Aiham al-Ghassani.

Suatu ketika, ketika ia sedang menunaikan ibadah haji, ujung jubahnya terinjak dengan tidak sengaja oleh seorang Arab miskin.

Dalam amarahnya, Jablah menempeleng orang tersebut, tapi orang itu pun balik menempelengnya.

Dalam keadaan sangat berang, Jablah lalu menemui Khalifah Umar bin Khattab dan mendesaknya agar menindak keras “rakyat kecil” itu.

Namun, diluar dugaannya, Khalifah justru menyatakan bahwa Jablah telah menerima balasan yang setimpal dari perbuatannya.

Tentu saja Jablah tidak bisa menerima pernyataan Khalifah itu, “Kalaulah dia melakukan penghinaan di negeri saya, dia telah saya gantung,” ujarnya.

“Itulah praktek di sini sebelum Islam, jawab Khalifah Umar. “Tetapi sekarang, orang miskin dan putra mahkota diperlakukan sama di hadapan Islam.”

Dalam Islam, prinsip keadilan dan tidak pandang bulu dalam menegakkan hukum harus selalu seiring dengan prinsip persaudaraan. Ini, karena tanpa adanya keadilan, persaudaraan tidak mungkin terwujud.

Prinsip keadilan dan persamaan di hadapan hukum itu pulalah yang selalu ditekankan oleh Khulafaur Rasyidin ketika memilih seorang gubernur.

“Tegakkanlah keadilan dalam pemerintahan dan dalam diri Anda sendiri, “kata Khalifah Ali bin Abi Thalib kepada Malik Asytar, ketika menunjuk yang terakhir ini sebagai gubernur Mesir.

“Lindungilah hak-hak rakyat, dan janganlah karena hanya segelintir orang, Anda mengorbankan kepentingan mereka,” lanjutnya.

Dari uraian ini, jelaslah bahwa keteladanan dan kewajiban menegakkan keadilan tidak dapat ditawar-tawar lagi, karena ia merupakan amanah Allah dan sendi pokok dari kewibawaan satu pemerintahan.

Bahkan, mengutip pendapat sejumlah pakar hukum, apabila keadilan diabaikan pasti menimbulkan reaksi bukan saja dari mereka yang menjadi korban dari ketidak adilan itu, tapi juga dari masyarakat luas.

Abdullah bin Umar Ra. berkata bahwa Rasulullah SAW, telah bersabda, “Ketahuilah bahwa kalian semua adalah pemimpin (pemelihara) dan bertanggung jawab terhadap rakyatnya… Maka camkanlah bahwa kalian semua adalah pemimpin dan akan diminta (dituntut) pertanggungjawaban tentang hal yang dipimpinnya.”¤

Wallahu a’lam bish shawa

Semoga bermanfaat..
Wassalam.


Penulis adalah Alumni 79′ Pelajar Al-Qismul ‘Aly, Al-Washliyah, Isma’iliyah, Medan, Sumatera Utara.

Berdomisili di Lombok, Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Penulis: Aswan NasutionEditor: Redaksi
  • Bagikan