Masih Menolak Lupa, Tragedi Semanggi I

  • Bagikan
Maria Katarina Sumarsih, ibu dari Wawan hingga hari ini masih berdiri setiap hari Kamis di depan Istana meminta keadilan terhadap korban pelanggaran HAM 1998/amnesty.id

JURNALTODAY.ID, Samarinda – 13 November 1998 ratusan mahasiswa yang bergerak di hari-hari sebelumnya kembali mendapat hadangan. Kali ini, mereka bahkan dihadang dari dua arah di Jalan Jenderal Sudirman dengan kendaraan lapis baja.

Bentrok di Semanggi pun tak terhindarkan antara mahasiswa dengan gabungan TNI-Polri, juga Pasukan Pengamanan Masyarakat Swakarsa atau Pam Swakarsa (kelompok sipil bersenjata yang dibentuk TNI).

Bentrokan yang memakan korban pertama, Teddy Wardhani Kusuma, mahasiswa asal Institut Teknologi Indonesia (ITI).

Menyaksikan bentrokan itu, Mahasiswa Universitas Atma Jaya pun berusaha untuk merawat korban yang terluka. Membawa para korban ke dalam area kampus.

Tragis, Bernardus Realino Norma Irmawan alias Wawan, mahasiswa Fakultas Ekonomi Atma Jaya justru menjadi korban. Peluru tajam aparat bersarang di dadanya. Tepat ketika ia berusaha menolong rekannya di pelataran parkir kampus.

Tak berhenti disitu. Korban terus berjatuhan. Tercatat 17 orang meninggal, dan 109 mengalami luka-luka. Dalam sejarah, tragedi ini dikenal sebagai Tragedi Semanggi I.

Korban tak hanya dari kalangan mahasiswa, adapula dari kalangan pelajar, wartawan, warga sipil, juga aparat keamanan.

Hingga hari ini, Tragedi Semanggi I belum juga mendapatkan titik terang. Orang tua korban masih berjuang menuntut keadilan kepada negara.

Dalam momentum politik, Tragedi Semanggi I juga terus-terusan menjadi komoditas politik guna menggalang dukungan, baik dari eksponen gerakan 98 yang masih konsen dengan pengusutan kasus ini hingga keluarga korban.(as)

  • Bagikan