Klaim 100 Hari Kerja Berhasil, GPM Samarinda : Janji Tinggal Janji

  • Bagikan
Andi Harun - Rusmadi, pasangan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Samarinda

SAMARINDA – 100 hari pemerintahan Andi Harun – Rusmadi di Kota Samarinda mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Selain ucapan selamat atas klaim keberhasilan mereka, pemilik slogan ‘Samarinda Pusat Peradaban’ ini juga tuai kritikan, kali ini berasal dari Gerakan Pemuda Marhaenis (GPM) Kota Samarinda.

Bung Risal, Ketua DPC GPM Kota Samarinda menyampaikan bahwa tak dapat dipungkiri beberapa perubahan memang telah dilakukan pemkot saat ini. Seperti penanggulangan Covid-19, penanganan sampah, atau penataan parkir, namun menurutnya itu biasa saja.

“Tapi itu semua juga masih jauh dari kata bahwa ini adalah sebuah prestasi,” katanya.

Selanjutnya, mantan Ketua DPC GMNI Kota Samarinda menegaskan bahwa janji kampanye yang terpampang jelas disetiap kampanyenya sangat kontradiktif dengan klaim keberhasilan 100 hari kerjanya, terkait janji pemberian fasilitas/penyediaan ruang bagi Pedagang Kaki Lima (PKL) di Tepian Mahakam.

Baca Juga :  Wakili Wagub Resmikan Kantor JMSI Kaltim, Kadiskominfo: Jangan Sampai Organisasi Hanya Bermanfaat Bagi Segelintir Orang

“Janji hanya tinggal janji, padahal saudara saudara kita para PKL yang tercatat resmi dalam Ikatan Pedagang Tepian Mahakam (IPTM) yaitu sebanyak 104 anggota sudah rendah hati, legowo siap diatur oleh pemkot,” jelas Risal.

Menurutnya, jika memang dianggap kehadiran para PKL mengganggu estetika, toh tinggal peran pemkot menata agar tampil cantik, demikian pula soal kebersihan dan keamanan.

Kehadiran PKL menurut Risal merupakan konsekuensi dari urbanisasi yang keberadaannya tidak bisa dihindari, namun bisa diatur.

Baca Juga :  Tim Advokasi untuk Demokrasi Kaltim. Bernard: Termohon Berupaya Menggugurkan Upaya Hukum Pra Peradilan

“Sekali lagi mereka siap diatur oleh Wali Kota agar tetap berjualan, tapi hingga hari ini masih belum ada kejelasan alias masih digantungkan nasibnya,” sesalnya.

Jika pemkot tak kunjung memberikan respon, menurut Risal maka jangan salahkan jika kemudian muncul berbagai spekulasi terkait masa depan PKL dan bantaran sungai Mahakam, tempat mereka berjualan.

“Jangan -jangan pemkot ada maksud lain, yaitu memberikan pengelolaan Tepian Mahakam pada investor. Kalo begini, jelas akan menimbulkan permasalah sosial dan cap Wali Kota tidak berpihak pada wong cilik itu memang benar, tetapi semoga saja itu semua tidak terjadi,” ucapnya penuh harap.

Baca Juga :  Lagi, Macet Parah Di Tanah Datar, Jalan Poros Samarinda-Bontang

Diakhir, dirinya menerangkan bahwa kritikan yang dilemparkan kepada pemkot mestinya disambut baik. Justru akan berbahaya jika pemerintahan yang berjalan saat ini hanya dihujani pujian tanpa kontrol, meskipun bertentangan dengan realita. Hal ini selanjutnya tidak hanya akan berdampak pada masyarakat Samarinda, namun juga akan berdampak pada jejak politik Andi Harun-Rusmadi.

“Kita sayang pada pemerintah. Maka dari itu GPM hari ini mengingatkan jangan permainkan nasib PKL. Kita semua tahu, ini permasalahan piring nasi mereka, dari situlah anak-anak mereka bisa sekolah. Ayo, Pak Wali, duduk bersama mereka, dengar suara hati mereka,” tegas Risal. (*)

  • Bagikan