Dipanggil Rektorat Terkait Poster Jokowi ‘ The King of Lip Service’, BEM UI Dibanjiri Dukungan

  • Bagikan
Poster yang sedang beredar di dunia maya

JAKARTA – Ada yang tidak biasa di minggu sore, (27/06/2021) di Universitas Indonesia (UI). Ketua BEM UI, Leon Alvinda bersama pengurusnya diminta menghadap ke rektorat sore tadi.

Pemanggilan tersebut terkait dengan poster yang disebar di dunia maya oleh BEM UI, melalui akun twitter @BEMUI_Official yang menyebut Jokowi sebagai The King Of Lip Service. Dalam posternya, BEM UI turut menyertakan referensi yang berisi link pemberitaan terkait ucapan dan tindakan Jokowi yang dinilai kontradiktif.

Pemanggilan jajaran pengurus BEM UI ini menarik perhatian berbagai kalangan. Baik dari kalangan politisi, akademisi, hingga aktivis lintas sektor. Ragam pandangan pun bermunculan, pro kontra terjadi.

Ade Armando, dosen komunikasi di UI menunjukkan ketidaksepakatannya dengan tindakan dari BEM UI.

“Ini karya BEM UI. Saya sih menghargai kebebasan berekspresi. Tapi kalau jadi lembaga yang mewakili mahasiswa UI, ya jangan kelihatan terlalu pandirlah. Dulu masuk UI, nyogok ya?” Cuit ade Ade Armando.

Tak hanya itu, dirinya bahkan mengekspose gambar lama Presiden BEM UI yang berisi tentang ucapan selamat saat Leon Alvinda Putra menjabat sebagai Ketua Umum HMI FEB UI 2018-2019.

Tanggapan berbeda diberikan oleh Beka Ulung Hapsara. Komisioner Komnas HAM ini memposting kembali berita dari Tempo yang berisi tentang pemanggilan BEM UI.

“Tindakan rektorat berlebihan. Kebebasan berpendapat dan berekspresi di negeri ini lahir salah satunya karena kritisisme mahasiswa. Sediakan ruang yang cukup di kampus supaya diskursus tumbuh sehat.” Tulis nya di akun @Bekahapsara

Komentar kocak diberikan oleh Dandhy Laksono. Melalui akun twitter miliknya, Dandhy menyarankan agar Leon Alvinda dan pengurus yang dipanggil untuk menghadap ke rektorat dengan memakai sandal jepit saja, berhubung mereka dipanggil pada hari Minggu.

Sementara itu legislator asal Kalimantan Timur, Irwan melalui akun @irwan_fecho menuliskan dukungannya terhadap aksi BEM UI.

“Akal sehat memang tidak boleh punah di negeri ini, harus ada generasi muda yang merawatnya. BEM UI membuat akal sehat terus tumbuh di tengah kering kerontang kritik dari mahasiswa di berbagai kampus tanah air terhadap rezim yang berkuasa. Semoga tidak masuk angin dan menginspirasi BEM yang lain,” tulis politisi Partai Demokrat ini.

Tanggapan lain juga muncul dari Samarinda, Kalimantan Timur. Muslan, Mantan Wakil Presiden BEM Fisip Universitas Mulawarman menyatakan dukungannya kepada aksi yang dilakukan BEM UI.

Dirinya berpendapat bahwa situasi hari ini untuk melakukan aksi demonstrasi selalu berbenturan dengan situasi pandemi dan berujung aksi represi dari kepolisian seperti yang terjadi di Banjarmasin beberapa waktu lalu.

“Aksi direpresif, kritik di media sosial kerap dibenturkan UU ITE. Terlihat jelas kemunduran demokrasi. Bahkan pembungkaman demokrasi sudah sampai di ruang-ruang ilmiah, seperti yang saat ini terjadi di UI,” ungkap Mahasiswa Fisip Unmul ini.

Terkait pemanggilan BEM UI, dirinya mengecam tindakan tersebut. Dirinya berharap tidak ada pembatasan bagi mahasiswa untuk memangkas daya kritis mahasiswa. Selain itu, dirinya juga menyoroti politisi-politisi yang turut mengomentari kejadian di UI. Menurutnya, hal itu bisa berpotensi memunculkan kembali tudingan-tudingan, serangan terhadap aksi gerakan mahasiswa. yang dituduh ditunggangi oleh kepentingan politik tertentu.

“Kita belajar dari pengalaman sebelum-sebelumnya. Seperti aksi UU KPK. Kita aksi murni karena kesadaran tetapi justru dituduh bahwa aksi kami ditunggangi oleh kepentingan politik tertentu, jadi jangan sampai terulang kembali,” jelasnya.

Muslan berharap agar wakil rakyat yang notabene merupakan kelompok oposisi, untuk bersuara dan menunjukkan keberpihakannya sesuai dengan kapasitasnya, yakni di ruang-ruang rapat DPR. (*)

  • Bagikan