banner 728x90

Prof Margarito : Pernyataan Menteri Bukan Hukum, Kecuali Negara Otoriter

  • Bagikan
banner 728x90

JAKARTA – Pakar dan Pengamat Hukum Tata Negara Margarito Kamis mengungkapkan bahwa Pernyataan Menteri bukanlah Hukum. Hal ini diucapkannya terkait Menko Polhukam Mahfud MD, mengumumķan pembubaran ormas Front Pembela Islam (FPI) Rabu (30/12/20) kemarin.

“Pernyataan dari seorang menteri bukan hukum, pernyataan dari Presiden sekalipun bukan hukum. Kecuali di negara otoriter, apa yang keluar dari mulut pejabat itu hukum. Di negara demokrasi tidak, di sistem hukum kita tidak, pernyataan itu bukan hukum,” tutur Margarito kepada jurnaltoday.id, di Jakarta Rabu (30/12/20).

Baca Juga :  Hakim Tolak Permohonan Menghadirkan HRS Dalam Sidang Praperadilan

Apalagi, FPI sudah tidak lagi memperpanjang SKT di Kementerian Dalam Negeri sejak Juni 2019. Artinya, tidak ada dasar bagi pemerintah melakukan pembubaran itu.

“Kan dia tidak mendaftar, mau bubarkan bagaimana, syarat pembubaran kan mencabutnya dari register, kalau dia nggak ada dalam register apa yang mau dicabut,” kata dia.

“Secara hukum formil (FPI) sudah dianggap tidak ada, bahwa mereka ada ya tetap sebagai organisasi, hanya saja dia tidak terdaftar di Kemendagri. Tidak mendaftar sama sekali, tidak berarti bahwa orang tidak bisa berserikat,” ujarnya.

Baca Juga :  KPK Terus Melakukan Pendalaman Kasus Proyek Infrastruktur di Dinas PUPR Kota Banjar

Karena itu, menurut Margarito, FPI masih tetap bisa berkumpul. Sedangkan mengenai pembubaran yang pastinya akan dilakukan pemerintah dalam setiap kegiatan FPI, menurutnya, adalah hal yang pasti terjadi juga, terutama di masa pandemi.

“Urusan bubar membubarkan, kan bisa terjadi setiap saat. Kumpul-kumpul di pandemi ini bisa dibubarkan karena alasan pandemi. Kalau besok FPI mengubah nama menjadi Front Pembela Indonesia, FPI juga kan. Tidak ada masalah,” ucapnya.

Baca Juga :  Umpan Bola Open, Quick, Maupun Back Attack mewarnai laga persahabatan Antara Rutan Samarinda & Lapas Tenggarong

Margarito juga menambahkan, eksistensi sebuah organisasi masyarakat tidak ditentukan oleh daftar dan tidak daftar, tetapi oleh pengakuan masyarakat. Sehingga, meskipun FPI tidak mendaftar, tetap tidak bisa disebut sebagai organisasi ilegal.

“Tidak (ilegal) juga. Kalau mereka besok mau mengganti nama front pembela Indonesia, FPI juga, tidak ada yang salah,” pungkasnya. (*)

  • Bagikan