banner 728x90

Pemimpin yang Dipercaya

  • Bagikan
Aswan Nasution-Wkl. Ketua PW Al Jam'iyatul Washliyah Prov. Nusa Tenggara Barat)
banner 728x90

SEORANG yang memiliki integritas tinggi adalah orang-orang yang penuh keberanian dan berusaha (ihktiar) tanpa kenal putus asa untuk dapat mencapai apa yang ia cita-citakan.

Cita-cita yang dimilikinya itu mampu mendorong dirinya untuk tetap konsisten dengan langkahnya.

Ketika kita mencapai tingkat ini, maka orang lain akan melihat bagaimana aspek ‘mulkiyah’ yaitu komitmen kita, sehingga orang kemudian akan menilai dan memutuskan untuk mengikuti atau tidak mengikuti kita.

Integritas akan membuat kita tidak percaya, dan kepercayaan ini akan menciptakan pengikut yang setia kepadanya.

Dan kemudian tercipta sebuah kelompok yang memiliki tujuan.

Inilah tangga kedua kepemimpinan, setelah mencapai landasan sebagai pemimpin yang dicintai maka tingkat kedua adalah integritas yang menciptakan kepercayaan.

Integritas adalah sebuah kejujujuran. Integritas tidak pernah berbohong dan integritas adalah kesesuaian antara kata-kata dan perbuatan yang menghasilkan kepercayaan.

Ketika pertama kali Nabi Muhammad SAW menerima wahyu dari Allah SWT dia merasa bingung, “Siapa yan akan kua ajak? Dan siapa pula yang akan mendengarkan?”

Baca Juga :  Perpaduan Pikir dan Dzikir

Sudah sewajarnya apabila Khadijah percaya kepadanya. Ia sudah mengenalnya benar. Selama hidupnya laki-laki itu selalu jujur. Lalu Khadijah menyatakan beriman atas kenabiannya itu.

Inilah hadiah sebuah kepercayaan dari orang lain yang diperoleh karena sikap jujur Nabi Muhammad SAW, yang dijuluki Al Amin itu, saat itu dia memperoleh seorang pengikut.

Nabi Muhammad SAW menghadapi tantangan yang sangat berat ketika pertama kali harus meluruskan akhlak kaum Quraisy, ia tahu benar betapa kerasnya mereka itu.

Dan betapa kuatnya mereka berpegang kepada berhala yang disembah-sembah nenek-moyang mereka itu.

Di sinilah dibutuhkan suatu keberanian dan pengorbanan untuk mampu menegakkan kebenaran dan menciptakan suatu perubahan.

Dia sungguh-sungguh melakukannya, dan berani menanggung segala resikonya. Keberanian ini pula yang membangun kepercayaan dari para pengikutnya kelak.

Baca Juga :  Mari Bertawassul Kepada Rasulullah

Inilah contoh konkret seorang pemimpin sejati, pemimpin yang memiliki prinsip. Dan prinsip inilah yang akan menciptakan kepercayaan dan pengaruh yang luar biasa dari pengikutnya kelak.

Pernah suatu saat Utbah berbicara kepada Nabi Muhammad SAW, orang Quraisy ini menawarkan harta, pangkat, bahkan kedudukan sebagai raja.

Muhammad SAW menjawab dengan membacakan surat As Sajadah, Utbah diam mendengarkan kata-kata yang begitu indah :

“Alif Laam Miim. Turunnya Al Qur’an yang tidak ada keraguan padanya, dan Tuhan semesta alam. Tetapi mengapa mereka mengatakan: “Dia Muhammad mengada-adakannya”.

Sebenarnya Al Qur’an itu adalah kebenaran dari Tuhanmu, agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang belum datang kepada mereka orang yang memberi peringatan sebelum kamu; Mudah-mudahan mereka mendapat petunjuk.” ( Qs. As Sajadah : 1,2,3).

Dilihatnya sekarang yang berdiri di hadapannya itu bukanlah laki-laki yang didorong oleh ambisi harta, ingin kedudukan atau kerajaan – melainkan orang yang mau menunjukkan kebenaran, mengajak orang kepada kebaikan.

Baca Juga :  Menunaikan Haknya Kepada Sesama

Ia mempertahankan sesuatu dengan cara yang baik dengan kata-kata yang penuh hikmah.

Inilah contoh pemimpin yang tidak bisa dipercaya, ia memegang teguh prinsip, tidak tergoda oleh rayuan harta atau menempati, yang akan menghancurkan dan memusatkan kepercayaan yang telah diperolehnya dari para pengikutnya.

Bahkan Nabi Muhammad SAW tidak mampu menolak tawaran tersebut dengan cara yang sangat mempesona.
Disinilah contoh-contoh dari seorang pemimpin yang ber-integritas.

Marilah kita dengarkan secara seksama firman Allah ini, dan kita hayati dan resapi yaitu:

“Kami utus para rasul-rasul, menyampaikan kabar gembira dan memberi peringatan. Maka barangsiapa yang beriman, dan memperbaiki diri, tiada mereka perlu dikhawatirkan, dan tiada mereka berduka cita”. (Qs. Al An’aam: 48).

Nashrum minallahi wa fathun qariib wa basysyiril mukminin

Wallahu a’lam bish showab

  • Bagikan