banner 728x90

PA GMNI Di Tengah Perubahan Arus Generasi

  • Bagikan
Pembukaan kongres PA GMNI 2015 lalu
banner 728x90

Fenomena saat ini, Indonesia sedang berada di pusaran Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0, karenanya dampak perubahan sosiologis maupun antropologis sebagai konsekuensi memasuki era ini, haruslah dicermati dan direspons dengan baik dalam mengelola generasi baru bangsa.

Dalam revolusi indusri 4.0 yang memiliki tiga karakter utama dalam gerak dinamisnya yaitu: Inovasi, Otomasi dan Transfer Informasi. Membutuhkan konsepsi baru dalam semangat memberikan jalan pada proses kaderisasi.
Era Revolusi Industri 4.0 merupakan fenomena yang mengkolaborasikan teknologi cyber dan teknologi otomatisasi, dimana konsep penerapannya berpusat pada konsep otomatisasi yang dilakukan oleh teknologi, tanpa memerlukan tenaga kerja manusia dalam proses pengaplikasiannya.

Begitu juga Society 5.0 atau Masyarakat 5.0 dalam menyelesaikan masalah sosial dengan mengintegrasikan ruang dunia maya dan nyata. Dan dalam konteks ini teknologi masyarakat yang berpusat pada manusia sudah berkolaborasi dengan teknologi Artificial Intelligence (AI) dan Internet of Thing (IoT).

Untuk itu menyambut dinamika kongres ke-4 Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (PA GMNI) di Kota Bandung, pada tanggal 21-23 Juni 2021 mendatang, dan rencananya diikuti oleh 269 DPC (Kabupaten/Kota), dan 34 DPD (Provinsi) se-Indonesia, haruslah mampu membaca perubahan arus zaman generasi baru tersebut.

Generasi Hebat Alumni GMNI
Memahami kehadiran generasi baru dalam zaman baru, aktivitas PA GMNI haruslah bersenyawa dengan perubahan yang terjadi tersebut, jika kita tidak ingin hanya puas bermain pada tataran retorika dan larut dalam romantisme kenangan semata.

Baca Juga :  Walikota Terpilih Harus Segera Kerjakan Program Prioritas

Jika kita gagal melakukan adjusment strategi aktivitas kita dalam konteks kekinian, maka kita akan kesulitan keluar dari rasa berjaya, namun sejatinya tak berdaya dalam memenangkan kompetisi di ranah realitas kehidupan berbangsa dan bernegara.

Karenanya romantisme kenangan yang kita bangun hanyalah satu instrumen untuk mendinamisir dalam berdialektika dengan realita, kalau kita meminjam istilah Bung Karno itu yang diistilahkan beliau adalah “RODINDA” (Romantika, Dinamika dan Dialektika).

Kita generasi yang ada dalam barisan PA GMNI saat ini, secara sosiologis adalah generasi yang beruntung, yang dapat melihat dan mengalami langsung bagaimana bertahan dan berjuang di tengah rezim otoriter Orde Baru yang sangat represif itu.

Semangat bertahan dan berjuang dalam rezim otoriter itu, di tengah tekanan yang amat dahsyat, namun tetap mampu membangkitkan semangat melawan dan tetap berkreasi dan beraktivitas yang loyal pada jalannya ideologi Marhaenisme yang diyakini, hingga ikut berpartisipasi aktif dalam upaya mengakhiri era rezim tersebut, telah lebih dari cukup untuk mengatakan bahwa itu adalah era generasi hebat.

Organisasi Paguyuban Bukan Petembanan

Secara definisi organisasi Paguyuban (Gemeinschaft) adalah organisasi sosial yang memiliki keanggotaan dalam jumlah yang relatif banyak dan bersifat saling mendukung satu sama lain dengan ikatan batin yang bisa dirasakan secara langsung, karena kesamaan identitas dalam ikatan yang sangat kuat yang mampu bertahan dalam rentang waktu yang sangat panjang.

Baca Juga :  Corona "Grogoti" Perdagangan Minyak Mentah

Nah dalam konteks ini, nilai lebih yang harus diperjuangkan untuk melengkapi definisi paguyuban di atas, adalah bagaimana menjadikan organisasi PA GMNI, adalah barisan para pemenang yang mampu memberikan secara optimal energinya untuk kejayaan bangsa dan negara tercinta ini.

Sehingga dalam perspektif ini, PA GMNI jelas dan tak sama dengan organisasi yang berbaisikan Patembayan (gesellschaft), yang dalam klasifikasi kelompok sosial menurut Georg Simmel, sosiolog asal Jerman, merupakan bentuk kelompok sosial yang di mana para anggota–anggotanya memiliki ikatan yang hanya berbentuk sementara dan memiliki sifat sekunder.

Membangun Jaringan Intelektual Organik

Dalam perspektif filsuf Italia, Antonio Gramsci, “intelektual adalah mereka yang berpikir dan memiliki kesadaran, sehingga memikul beban untuk menyadarkan masyarakat dengan pengetahuan yang dimiliki dari proses berpikirnya.”

Adapun Intelektual organik, yaitu mereka yang dengan kesadaran dan pengetahuanya mengambil langkah untuk membangkitkan kesadaran perlawanan terhadap berbagai agenda kekuasaan manapun yang dianggap akan merugikan dan menyesengsarakan rakyat.

Nah, jaringan Intelektual Organik inilah yang harus dibangun oleh fungsionaris PA GMNI.
Dengan berbekal kesadaran sebagai bagian intelektual organik seperti ini, kita berharap PA GMNI, yang juga merupakan himpunan dari para alumni berbagai perguruan tinggi, memiliki kesadaran tinggi mau menggunakan sumber-sumber kekuatan yang dimilikinya, baik itu pengetahuan maupun basis massa, untuk mengambil langkah dalam membangkitkan kesadaran rakyat agar mau berperan aktif, dalam mengibarkan panji-panji kebesaran bangsa dan negaranya.

Baca Juga :  Komitmen Setelah Bulan Ramadhan Berakhir

Namun yang perlu kita ketahui, bahwasannya generasi baru, yang mendominasi keberadaanya dalam ruang “Bonus Demografi” menurut sensus penduduk tahun 2020 adalah Generasi Z atau GenZ dan milenial*, yaitu generasi yang lahir di era Internet, antara 1995 dan 2010 dan Generasi Alfa atau Genalfa adalah generasi yang lahir di era ponsel cerdas, setelah tahun 2010, jumlahnya mencapai 27,94 persen, adalah Generasi Z, dan sebanyak 25,87 persen Generasi Milenial dari total populasi tahun 2020 sebanyak 270,20 juta jiwa.

Itulah gambaran arus baru generasi yang dihadapi saat ini. Tentu baik secara gaya dan cara, maupun pola gerakan yang akan dilakukannya, dengan sendirinya menyesuaikan dengan kondisi zaman keberadaan mereka, dan tentu akan berbeda dengan kita para pendahulunya.

Karena memang hanya satu yang abadi di dunia ini, yaitu perubahan, maka fungsionaris PA-GMNI yang akan datang tidak ada pilihan harus berada pada garis perubahan itu.

SELAMAT KONGRES PA GMNI, generasi terbaik bangsa.

Artikel ini telah tayang dengan judul yang sama di laman infokongres.com

 

Penulis: Dr. Usmar. SE.,MM., Ketua LPM Universitas Moestopo (Beragama) Jakarta dan Ketua Umum Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN)Sumber Berita
  • Bagikan