banner 728x90

Menempuh Jalan Spiritual Menuju Allah

  • Bagikan
banner 728x90

Suluk secara harfiah berarti menempuh (jalan) dalam kaitannya dengan agama islam dan sufisme kata suluk berarti menempuh jalan (spiritual)  untuk menuju Allah. Menempuh jalan suluk (bersuluk) mencakup sebuah disiplin seumur hidup dalam melaksanakan aturan2 eksoteris agama islam (syariat) sekaligus aturan2 esotoris agama Islam (hakikat). Bersuluk juga mencakup hasrat untuk mengenal diri. Memahami esensi kehidupan, Pencarian Tuhan dan pencarian kebenaran sejati (ilahiyyah). Melalui penempaan diri seumur hidup dengan melakukan syariat lahiriah sekaligus syariat batiniah demi mencapai kesucian hati dan mengenal diri dan Tuhan.

Kata suluk berasal dari terminologi Al Qur’an. Fasluki, dalam surat An-Nahl (16) ayat 69. Fasluki subula Robbiki zululan, Yang artinya “Dan tempuhlah jalan Rabb-mu yang telah di mudahkan (bagimu).”  Seorang yang menempuh jalan suluk di sebut SALIK. Kata suluk dan salik biasanya berhubungan dgn tasawuf, tarikat dan sufisme. (Wikipedia).

Suluk pada intinya adalah memperbaiki akhlak, memperkuat keyakinan akan kesadaran keberaan Tuhan, dan kehendak Tuhan, kehendak jiwa serta menyadari kedudukan hamba. Suluk berarti tidak akan lepas dari proses mensucikan jiwa yang bersinggasana dalam hati seseorang. Dalam proses suluk, seseorang atau salik tentunya harus memiliki guru yang murobbin. Yaitu seorang guru yang mampu memahami secara lahir maupun batin tentang ketuhanan dan telah menjalankan serta mengalami perjalanan suluk dalam kehidupannya.

Baca Juga :  Garis Kemiskinan Bontang Menurun, ditengah indeks kedalaman kemiskinan Yang Naik ?

Untuk memulai perjalanan suluk, tentu pelajaran yang utama adalah ilmu Tauhid dan tidak meninggalkan pengetahuan rukun iman dan rukun islam serta mengaplikasikannya secara lahir maupun batin. Ada beberapa materi pelajaran suluk yang sangat penting yaitu, “man ‘arafa nafsahu, faqad ‘arafa rabbahu.”. yang artinya adalah siapa yang mengenal Jiwanya  (Nafs),-nya, Maka akan mengenal Rabb-nya (Tuhannya).

Jiwa atau jiva berasal dari bahasa sansekerta yang artinya “BENIH KEHIDUPAN”

Jiwa juga diartikan sebagai seluruh kehidupan batin manusia (yang terjadi dari perasaan, pikiran, angan-angan    dan sebagainya (Wikipedia).

Nafsu secara etimologi berarti Jiwa, Nafsu secara terminologis ilmu tasawuf adalah akhlak

Baca Juga :  Bahaya Kekuasaan Politik Turun-Temurun

Nafsu adalah dorongan-dorongan alamiah manusia yang mendorong memenuhi kebutuhan hidupanya.

Dalam QS 89 : 27-30 (surat Al Fajr ayat 27-30)

“yaa ayyatuhan-nafsul-muthma’innah”:  Wahai Jiwa yang tenang

“Irji’iii ilaa robbiki roodhiyatam mardhiyyah”: Kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai

“fadkhulii fii ‘ibaadii”:  Maka masuklah kedalam golongan hamba-hamba-Ku

“wadkhulii jannatii”: Dan Masuklah kedalam surgaku.

Memaknai ayat tersebut kita selayaknya segera sadar bahwa target hidup kita adalah mencapai jiwa yang tenang, atau jiwa yang di ridhoi oleh Allah. Oleh sebab itu SULUK yang perlu kita perkuat adalah membersihkan jiwa kita agar selalu mendapatkah rahmat atau cahaya dari Allah seperti yang tertuang dalam surat An Nur ayat 34 dan 35. ( Nanti setelah tiba waktunya akan saya jelaskan secara rinci tentang ayat ini).

Adapun Nafsu atau jiwa manusia terdiri dari beberapa tingkatan :

Jiwa Amarah

Jiwa Lauwamah

Jiwa Sufiah

Baca Juga :  Pemimpin Wanita Menurut Kaca Mata Islam

Jiwa Mutmainah

Jiwa Rodhiah

Jiwa Mardiah

Jiwa Insan Kamil

Dengan mengenal jiwa yaitu dari jiwa amarah, lauwamah, sufiah, mutmainah, rodiah, mardiah dan insan kamil, tentu akan mengenal Tuhan-Nya, karena jiwa-jiwa sebelumnya sudah bersaksi kepada Allah seperti yang tertuang dalam surat Al Araf ayat 172. Jiwa-jiwa suci dalam diri tentu memiliki pengetahuan tentang keesaan yang murni, Oleh sebab itu sebagai seorang SALIK sudah seharusnya terus berupaya untuk selalu membersihkan jiwanya melalui:

Berpikir yang baik (Berpikir yang selalu membawa manfaat baik kepentingan dunia maupun akhirat)

Berkalimat yang baik (Kalimat yang selalu mengandung semangat, manfaat dan tidak menghina orang lain)

Berperasaan yang baik (menghilangkan rasa benci dan dendam, iri, dengki) 

Bertindak yang baik (Mengikuti norma-norma agama) dan diiringi dzikir-dzikir yang mengandung makna penyucian jiwa, seperti dzikir Istighfar, dzikir tauhid , dzikir asma dan do’a-do’a yang membawa manfaat, sampai menemukan perubahan yang baik dalam diri seorang SALIK.

  • Bagikan