banner 728x90

Mahasiswa dan Pemuda Kaubun Mengutuk Keras Tindakan Intimidasi Aparat Perusahaan Tambang Batubara Terhadap Warga

  • Bagikan
banner 728x90

SANGATTA – Pada Senin, 31 Agustus 2020 sejumlah warga di Desa Bumi Etam SP 1 Kecamatan Kaubun, Kab. Kutai Timur, Kaltim melakukan penahanan mobil bus tambang batubara, penahanan dilakukan karena mempersoalkan ketenagakerjaan terutama perekrutan tenaga kerja lokal dan pesangon.

Akhirnya, ada tiga unit yang tertahan kalau pun kendaraan tersebut bisa melanjutkan perjalanan ke lokasi tambang maka syaratnya pimpinan perusahaan harus datang menemui para warga sebab pimpinanlah yang memiliki keputusan.

Setelah menunggu beberapa waktu kemudian, datanglah kelompok aparat diantaranya ada Brimob dan Tentara, tentunya mereka bekerja (ngepam) di perusahaan tambang batubara.

Kelompok Brimob yang bekerja di Perusahaan tambang batubara PT. GAM tersebut mendatangi Hasrul Saleh yang juga salahsatu warga, salahsatu menggerakan masa pada saat itu, kemudian datang tanpa secara baik-baik.

Mereka mengintimidasi bersuara dengan bernada kencang sambil menenteng kan senjata. Padahal aksi penahanan yang dilakukan tidaklah anarkis. Entah mengapa Oknum aparat tersebut malah berlagak sudah seperti juru bicara perusahaan.

Baca Juga :  Sat Reskoba Ciduk Pria Pemilik Sabu di Desa Miau Baru Kutai Timur

Hal itu ditanggapi oleh salahsatu tokoh Desa Bumi Etam (orangtua dari Hasrul), hingga suasana saat itu terjadi adu mulut antara warga dengan aparat yang ada.

Menunggu beberapa jam kemudian, datanglah pimpinan perusahaan dari salahsatu kontraktor, kemudian menerangkan persoalan berkaitan dengan perekrutan tenaga kerja hingga hak pesangon.

Perundingan di Jalan Jati II pun telah menghasilkan titik terang, antara pihak kontraktor perusahaan bersama Hasrul sebagai mewakili dari masa dengan beberapa catatan bahwasannya dari pihak kontraktor akan memanggil teman-teman yang telah mengikuti proses test di perusahaan kemudian terkait pesangon akan melakukan perundingan bersama pihak terkait.

Setelah beberapa waktu kemudian, salahsatu tokoh tersebut (orangtua dari Hasrul Saleh) langsung mengalami stroke hingga terjatuh akibat dari intimidasi yang dilakukan oleh aparat tersebut. Hingga saat ini kondisinya belum sepenuhnya membaik.

Baca Juga :  Demonstrasi di Gedung KPU Kutim Kian Memanas. Aparat Kepolisian Bertindak Tegas

Suasana masa saat itu menjadi tidak kondusif akibat tindakan yang dilakukan aparat tersebut. Sejatinya, kelompok aparat harus berpihak terhadap masyarakat, tentunya melindungi, menjaga, mengayomi juga melayani masyarakat dengan cara yang tidak boleh kasar atau dengan menjunjung nilai kemanusiaan. Bukan menunjukkan dengan cara yang sombong, arogan. Sebab, setiap masalah harus diselesaikan dengan kepala dingin.

Dengan kejadian tindakan represif itu, masyarakat Desa Bumi Etam (kelompok pemuda) akan mengambil sikap tegas dan segera melakukan konsolidasi untuk menindaklanjuti masalah yang tidak sepeleh tersebut.

Hal ini respon sigap oleh organisasi mahasiswa IKBM (Ikatan Keluarga Besar Mahasiswa) Kaubun bersama pemuda Kaubun mengutuk keras tindakan intimidasi yang dilakukan oleh kelompok aparat tersebut. Ketua IKBM Kaubun Hasbi Mo’a mengatakan tindakan tersebut sangat fatal sampai membuat jatuh korban yang juga salahsatu orang tuanya.

“Aparat seharusnya bisa menunjukkan sikap pengayom bukan berbuat sesuka hati apalagi mendatangi kerumunan masa dengan membawa senjata, suara bernada keras,”ungkapnya pada Selasa (1/9/2020), Jalan Jati II, SP 1 Desa Bumi Etam, Kecamatan Kaubun, Kutai Timur, Kaltim.

Baca Juga :  GEPAK Kota Bontang Siap Kawal Pemenangan Pasangan Adi Dharma dan Basri Rase, Darmaji : Kami Akan Dukung Penuh

Hal ini juga ditambahkan Dewan Pembina IKBM Kaubun, Yohanes Richardo Nanga Wara mengecam tindakan pembungkaman demokrasi oleh aparat sangat melukai dari kebebasan untuk berekspresi apalagi sampai menimpa korban.

“Aparat mestinya tidak buta akan aturan sehingga tidak sesuka hatinya bersikap sewenang-wenang apalagi jelas ini berpihak pada perusahaan yang ada bukan kepada warga, ini soal menuntut hak wajar mestinya aparat hadir menjaga rakyat,”pungkasnya.

Selanjutnya dia menyebutkan kita bukan orang jahat kecuali ingin menuntut hak teman-teman pemuda apalagi itu dilindungi undang-undang terkait kebebasan berekspresi.

“Pemerintah segera mungkin mengambil sikap terkait masalah ini, jika tidak rekan mahasiswa bersama pemuda akan mengadakan konsolidasi hingga melakukan aksi sebesar-besarnya,” tegasnya. (Red)

  • Bagikan