banner 728x90

Kyal Sin Gugur, Rest In Power Jadi Trending Topik Di Twitter

  • Bagikan
Foto diambil sebelum Kyal Sin tertembak. Sumber: Twitter
banner 728x90

INTERNASIONAL – Kyal Sin, seorang perempuan berusia 19 tahun tewas dalam aksi unjuk rasa menentang kudeta militer di negaranya. Peluru aparat menerjang kepala perempuan muda ini, pada Rabu (3/7/2021).

Kyal Sin gugur lima hari sebelum seluruh dunia merayakan Hari Perempuan Internasional, 8 Maret mendatang. Tewasnya pejuang muda ini menggetarkan jagat lini masa, #restinpower menjadi trending topik di twitter berikut dengan #MilkTeaAlliance .

Perlawanan yang dilakukannya bukan tanpa alasan, bahkan dia sangat faham mengapa dan untuk apa dia berjuang. Kaos hitam bertuliskan “everything will be okay” berikut dengan tanda pengenal yang dilengkapi dengan informasi golongan darahnya.

Baca Juga :  Peringati May Day, Ketua JMSI Dorong AS Stop Blokade Atas Kuba

Kematian yang sudah ia persiapkan. Ya, begitu media sosial ramai membicarakannya. Siapa sangka selain menuliskan informasi golongan darahnya, ia menyelipkan catatan wasiat jika kelak dirinya gugur di medan perlawanan.

“Jika saya terluka dan tak dapat kembali ke kondisi yang baik, tolong jangan selamatkan saya. Saya akan memberikan bagian tubuh saya yang berguna pada seseorang yang membutuhkan.” Begitu bunyi pesan terakhirnya.

Baca Juga :  Tolak Kudeta Militer, Pembangkangan Sipil Muncul Di Myanmar

Pejuang demokrasi Myanmar ini tewas tatkala aparat keamanan melepaskan gas air mata dan pada saat itu juga dirinya berusaha menerobos. Tiada yang menduga, sebutir peluru melesat dan bersarang tepat dikepalanya. Angel, begitu ia kerap disapa, gugur menyusul puluhan nyawa lainnya yang sudah lebih dulu menjadi korban rezim militer Myanmar.

PBB sendiri menyatakan bahwa peristiwa tersebut merupakan hari paling berdarah sejak kudeta militer terjadi di Myanmar.

Baca Juga :  Joe Biden Mengakhiri Memberi Dukungan Kepada Arab Saudi Dalam Perang Yaman

Dalam salah satu video yang tersebar, sayup suara perlawanannya masih terdengar lantang, “Kami Takkan Lari, Darah Tak Patut Ditumpahkan,” teriaknya menantang aksi kekerasan yang dilakukan aparat dalam menangani aksi mereka.(Redaksi)

  • Bagikan