banner 728x90

Komitmen Setelah Bulan Ramadhan Berakhir

  • Bagikan
Aswan Nasution
banner 728x90

RAMADHAN


Sekarang telah tiba waktu akhir dari perenungan panjang mengenai spirit dan esensi shaum (puasa) ini. Dan inilah beberapa poin penting sebagai penggenapnya:

Jika kita berhasil menjalankan shaum (puasa) selama sebulan penuh, itu semata karena keutamaan dan kemurahan Allah SWT pada kita, yaitu dengan memberikan kesehatan dan kebugaran.

Kemampuan kita untuk puasa selama satu bulan secara berturut-turut adalah indikator bahwa kita pun mampu secara berkesinambungan untuk melakukan puasa-puasa sunnah setelah Ramadhan.

Dan memperbanyak di waktu-waktu yang dianjurkan. Karena ibadah-ibadah sunnah itu dapat menyempurnakan kekurangan-kekurangan yang terdapat pada ibadah-ibadah wajib.

Ketika pada Ramadhan ada kekuatan kita dalam menjalankan shalat sepanjang malamnya bersama imam, meskipun begitu panjang dan lama, merupakan bukti bahwa kita mampu untuk shalat malam secara lama.

Jadi janganlah kita memperingkasnya pada seluruh bulan (selain Ramadhan) sepanjang tahun. Sediakan porsi shalat malam yang cukup bagi diri kita setelah bulan Ramadhan.

Baca Juga :  TIGA PILAR UTAMA DAPAT MENGOKOHKAN BANGUNAN SUATU BANGSA

Karena shalat malam itu merupakan “kehormatan bagi orang mukmin”, maka janganlah kita mengabaikan kehormatan kita pada sisa setelah Ramadhan.

Pada bulan Ramadhan, kita telah mengkhatamkan Al-Qur’an satu kali, atau setidaknya sebagian Al Qur’an, atau bahwa kita telah mengkhatamkan Al Qur’an lebih dari sekali pada bulan Ramadhan.

Disini pula kita dituntut untuk berlaku adil pada diri kita sendiri sehingga kita tidak akan meninggalkan Al Qur’an dan sekaligus mengamalkannya setelah Ramadhan.

Pada bulan Ramdhan,kita telah menjaga hati dan akal semampu kita. Kita berpuasa, menahan diri dari kecamuk api hawa nafsu yang biasanya mampu melucuti kulit kepala.

Kita menjaga pendengaran, penglihatan, dan perasaan kita dari hal-hal yang haram pada bulan suci Ramadhan.

Tetapi, puasa-puasa anggota badan tersebut terhadap hal-hal yang haram tidaklah selesai begitu saja bersamaan dengan terbenamnya mata hari ketika munculnya bulan pertanda Idul Fitri.

Baca Juga :  Partisipasi Rakyat, Kunci Pemberantasan Korupsi

Puasa pendengaran, penglihatan, dan perasaan dari hal-hal yang haram adalah syari’at Allah yang harus dilaksanakan sepanjang tahun.

“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”. (QS. Al-Isra’ : 36).

Pada bulan Ramadhan, kita berperilaku dengan akhlak Islami, dan kita telah mengatakan pada orang yang mencaci kita, “Sesungguhnya aku sedang berpuasa.” Kita menjaga betul lisan pada hari-hari di bulan yang mulia tersebut.

Tidakkah puasa telah mengajari kita bahwa tindakan menjaga diri tersebut adalah unsur utama bagi akhlak mulia di setiap waktu?

Bukankah “tidak ada sesuatu yang lebih berat pada timbangan seorang mukmin pada hari kiamat dari akhlak yang baik”. (HR. At-Turmudzi)

Pada bulan Ramadhan itu hidup dan dipenuhi rasa malu. Maka tancapkanlah komitmen dalam diri kita untuk tetap selalu hidup dan punya rasa malu setelah bulan suci Ramadhan.

Baca Juga :  Pingkan Melipat Jarak

Barangkali saja komitmen ini merupakan wujud penerimaan taubat dan pemberian taufik dari Allah untuk kita, serta juga merupakan rekening simpanan kita (untuk masa depan)

Jika kita sudah benar-benar meneken komitmen, jangan sampai melanggar. “Maka barang siapa yang melanggar janjinya niscaya akibatnya akan menimpa dirinya sendiri.” (QS. Al-Fath :10).

Waspadalah, jangan sampai kita menjadi seperempat munafik gara-gara mengingkari janji!, sebab watak orang munafik itu ada empat, dan salah satunya adalah “mengingkari janji”.

Berkomitmenlah kepada Allah untuk senantiasa menjaga ketaatan ketika kita berada dipenghujung musim ibadah.

Rasulullah SAW telah memberi kita teladan untuk senantiasa menyatakan komitmen ketaatan kepada Allah di setiap waktu menjelang malam atau pada awal siang. Dalam doa beliau yang disebut dengan “Sayyidul Istitghfar”.

Wallahu a’lam bish sahwab

  • Bagikan