banner 728x90

Ketua MPR RI Meminta Bantuan Turki Membantu Pemulihan Ekonomi Nasional terdampak Covid 19

  • Bagikan
banner 728x90

JAKARTA – Indonesia melakukan pendekatan kepada Turki, sebagai upaya memperoleh bantuan untuk pemulihan ekonomi akibat terdampak pandemi virus corona Covid-19.

Permintaan dukungan disampaikan secara antar lembaga parlemen, yaitu Majelis Permusyawatan Rakyat (MPR) RI kepada Parlemen Turki. Yang disampaikan, adalah permintaan bantuan percepatan penyelesaian perundingan Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Turki (IT-CEPA).

Permintaan tersebut disampaikan Bambang Soesatyo saat melakukan pertemuan resmi dengan Ketua Parlemen Turki di Ankara, Turki, Selasa kemarin, yang dilansir Antara, Rabu, 4 November 2020.

“Parlemen memiliki peran penting dalam penyelesaian perundingan IT-CEPA. Karena itu, saya meminta bantuan Yang Mulia untuk mendorong percepatan penyelesaian perundingan tersebut”, ujar Ketua MPR dalam pertemuan dengan Ketua Parlemen Turki, seperti disampaikan melalui keterangan KBRI Ankara, Rabu.

Permintaan dukungan tersebut, disampaikan Ketua MPR RI Bambang Soesatyo kepada Ketua Parlemen Turki Mustafa Sentop, untuk membantu percepatan penyelesaian perundingan Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Turki (IT-CEPA), sebagai upaya pemulihan ekonomi nasional yang terdampak pandemi Covid-19.

Menanggapi permintaan tersebut, Ketua Parlemen Turki menyampaikan akan meminta komisi terkait di Parlemen Turki untuk segera meninjau ulang status terakhir perjanjian tersebut, dan mencari cara terbaik. Tujuannya, agar pemerintah Turki dapat melakukan percepatan negosiasi perjanjian yang sudah berlangsung selama hampir empat tahun.

Nilai perdagangan bilateral Indonesia-Turki pada 2019 mencapai 1,6 miliar dolar AS dengan surplus di pihak Indonesia lebih dari 800 juta dolar AS. Angka tersebut merupakan yang terbesar dibandingkan nilai perdagangan Indonesia dengan negara-negara di kawasan Balkan dan Eropa Timur lainnya.

Baca Juga :  PA 212 Sesalkan Sikap Polisi Yang Cegat Peserta Aksi 1812 ke Jakarta

Meskipun masih surplus, diperkirakan masih terdapat potensi peningkatan dalam jangka pendek sekitar 600 juta dolar AS jika kedua negara telah menandatangani IT-CEPA.

Produk ekspor utama Indonesia ke Turki adalah produk bahan baku industri yang sangat dibutuhkan Turki untuk meningkatkan ekspornya ke pasar dunia, seperti produk turunan minyak kelapa sawit, karet, serta berbagai jenis benang dan komponen otomotif.

“Karena itu kenaikan ekspor Indonesia justru akan memperkuat industri lokal di Turki”, tutur Atase Perdagangan KBRI Ankara Erik Nababan.

Selain membahas percepatan penyelesaian IT-CEPA, Ketua MPR RI juga menggunakan kesempatan tersebut untuk menyampaikan ungkapan simpati dan duka cita atas bencana gempa bumi yang menewaskan lebih dari 100 orang dan melukai hampir 1.000 korban di Provinsi Izmir, Turki.

Bersama Sentop, Bambang juga membahas sejumlah kerja sama strategis yang sudah berlangsung di antara kedua negara antara lain meliputi bidang industri pertahanan, pembuatan vaksin Covid-19 yang diharapkan segera memasuki tahap uji klinis, infrastruktur, dan investasi.

Sementara itu, di bidang kerja sama antarparlemen, Ketua MPR juga menggunakan kesempatan pertemuan tersebut untuk meminta dukungan Turki terhadap gagasan MPR RI guna mendirikan Majelis Syuro Dunia.

Majelis tersebut akan mencakup seluruh elemen legislatif baik di negara yang menganut sistem satu kamar maupun dua kamar. Gagasan dari Indonesia itu langsung didukung oleh Ketua Parlemen Turki.

Baca Juga :  Tantangan Dalam Dunia Pendidikan Dimasa Pandemi Covid, Kadisdik Batubara: Harus Sabar Melaksanakan PJJ/BDR

Pada pertemuan kali ini pimpinan MPR RI Bambang Soesatyo mendukung akan sikap tegas Presiden Turki Erdogan yang mengecam Presiden Perancis karena pernyataan Emmanuel Marcon yang menciderai Islam dengan mengatakan bahwa islam mengalami krisis di seluruh dunia. Presiden Perancis dinilai sudah sangat keterlaluan karena telah mendukung pemuatan karikatur Nabi Muhammad SAW.

Dilansir dari situs resmi MPR RI dalam kunjungan kerja di Turki ini Selain didampingi Duta Besar RI untuk Republik Turki Lalu Muhamad Iqbal, dalam pertemuan tersebut Ketua MPR juga didampingi oleh para Wakil Ketua MPR RI antara lain Syarifuddin Hasan dan Fadel Muhammad,serta anggota MPR RI dari Unsur DPR RI Mohammad Ichsan Firdaus dan anggota MPR RI dari unsur DPD RI Djafar Alkatiri.

Bamsoet Uji Coba Sirkuit Balap F1 Istanbul Park Turki

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo juga memenuhi undangan pemilik Sirkuit Istanbul Park, Vural AK, untuk mencoba lintasan balap sirkuit formula 1 (F1) menggunakan mobil Ferrari. Sirkuit Istanbul Park akan menjadi tempat balapan bergengsi F1 pada 13-15 November 2020, dibuka oleh Presiden Turki Recep Erdogan dan Ketua Majelis Agung Nasional Turki Mustafa Sentop.

“Vural AK adalah teman sekolah sekaligus sahabat dekat Ketua Majelis Agung Turki Mustafa Sentop. Tahun ini adalah kali pertama Turki kembali menyelenggarakan F1, setelah vakum sejak 2011. Karena pandemi Covid-19, jumlah pengunjung pun dibatasi. Dari kapasitas 220 ribu hanya dialokasikan untuk 100 ribu pengunjung saja,” ujar Bamsoet usai mencoba lintasan balap Sirkuit Istanbul Park, di Istanbul, Turki, Kamis (5/11/2020).

Baca Juga :  Diduga Tak Kantongi Izin Membangun, LIPPSU Meminta Pemerintah Tegas Terhadap Bangunan PT. STTC

Ketua DPR RI ke-20 ini juga diajak melihat berbagai koleksi mobil sport dan antik milik Vural AK. Dari yang paling antik hingga yang tercanggih dan termahal di dunia, dikoleksi Vural AK. Salah satunya Ford Thunderbird V8 225 HP tahun 1956.

“Saya memenuhi undangan sahabat lama Vural AK, yang merintis karir dari bawah. Ia pernah bekerja sebagai sopir, wiraniaga, dan staf transfer di dua perusahaan persewaan mobil yang berbeda selama lima tahun. Kemudian dipromosikan menjadi manager regional. Karena sudah menjiwai bisnis sewa mobil, di usia 21 tahun ia akhirnya menjalankan bisnisnya sendiri, mencoba mandiri tak lagi bekerja untuk orang lain. Namun baru dua tahun berjalan, usahanya bangkrut,” jelas Bamsoet.

Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini menerangkan, walaupun demikan Vural AK mengaku tak putus asa. Bahkan saat Turki diterpa krisis pada tahun 2001, usaha Vural AK juga terkena imbasnya. Namun dari krisis ia bisa belajar banyak, dari mulai melihat peluang hingga menjawab tantangan.

“Ia terus bangkit dan berinovasi. Hingga akhirnya dari seorang sopir, menjelma menjadi pemilik sirkuit yang bisa digunakan untuk balapan bergengsi F1. Perjalanan hidup yang inspiratif, patut dicontoh oleh generasi muda dari berbagai negara, termasuk Indonesia,” pungkas Bambang Soesatyo yang kerap dipanggil Bamsoet oleh media massa.(*)

  • Bagikan