Keterangan Pemancing Selamat, Sadaruddin : Thaha Itu Sudah Seperti Adik Saya Sendiri

  • Bagikan

BONTANG – Sadarudin, salah satu korban selamat atas kejadian kecelakaan di Laut Serang, pada Ahad (10/1/21) lalu. Menenggelamkan kapal yang ia tumpangi, bersama dengan Ust. Thaha, Mustarin, dan Muhammad Yunus. Pasca ditabrak kapal tangker. Menceritakan saat awal dirinya berencana untuk berangkat memancing.

Pagi, sehari sebelum kejadian. Sadaruddin salah satu korban selamat. Berikan keterangan kalau sebelum berangkat dirinya memang merencanakan untuk pergi memancing di sekitaran laut Serang.

Urusan keberangkatan, Ustadz Thaha yang menyewa kapal dengan tarif Rp. 500.000 dalam waktu 24 jam. Berukuran 12×1,5 Meter.

“Pak Thaha yang ajak mancing. Ini istri saya yang dengar beliau datang ajak mancing,” ucap Sadaruddin, ditemui dikediamannya, Santan Ilir, Kukar, Rabu (13/1/21) lalu.

Tepat pukul 11.00 Wita, dirinya bersama dengan Thaha, Yunus, dan Mustaring. Bergegas berangkat ke bagian selatan laut Serang. Tiba pukul 13.00 Wita. Memancing lah mereka.

Saat keberangkatan, yang di ingatnya Thaha saat itu kenakan pakaian celana berwarna kuning dan baju warna merah, di tambah dengan topi.

Baca Juga :  Pemerintah Korea Selatan Bantu Pencarian Pesawat Sriwijaya Air SJ-182

Pukul 24.00 Wita dirinya bersama rombongan memutuskan untuk bergeser ke Laut Serang. Hingga akhirnya pada pukul 03.00 Wita dini hari. Hujan mulai mengguyur laut tersebut.

Semuanya bergegas, untuk menghampar terpal. Tujuannya, agar terlindung dari kuatnya tiupan angin dan hujan yang turun. Dan posisi kapal sudah standby, karena jangkar sudah turun.

Sadaruddin yang duduk bersebelahan dengan Thaha, tepat di belakangnya ada Mustaring yang bersebelahan dengan Yunus. Sembari menunggu hujan dan angin reda.

Tak lama kemudian, sekira 20 menit sebelum kapal tangker mendekat.

Sabaruddin, dan yang lain mulai panik. Dirinya sempat meminta parang untuk potong tali jangkar yang terikat erat ke badan kapal.

Tak banyak waktu untuk mencari parang, situasi panik. Kapal raksasa itu sudah semakin mendekat. Seketika itu, Mustaring yang bersebelahan dengan Yunus langsung lari ke depan kapal, lalu loncat ke laut lepas.

Sedang Sadaruddin masih memaksa mengajak Thaha untuk loncat. Diluar dugaan, Thaha diam tak bergeming. Kemudian dirinya memutuskan untuk loncat sendiri kelaut menyusul Mustaring dan Yunus.

Baca Juga :  Soft Launching Pelabuhan Patimban. Kapal MV Suzuka Express telah sandar

Posisi kapal yang ditumpanginya, bersisian dengan kapal tanker. Body kapal sangatlah besar. Berwarna coklat yang ia lihat.

Bersisian dengan kapal tanker, Sadaruddin takut dirinya tersedot ke bawah kapal. Dan terkena baling-baling kapal.

Sebelum melompat, dirinya melihat posisi kapalnya sudah kemasukan air. Hampir penuh.

“Allahuakbar… Allahuakbar…. Allahuakbar… Itu aja di bilang terus. Dan gak loncat ikut saya,” ucapnya.

Saat berada di air, sekira 10 menit kemudian Sadaruddin dapat jeregen yang membantunya tetap di permukaan air.

Di saat yang bersamaan, dia juga melihat kapal pemancing lain. Jaraknya 300 meter dari tempat kejadian. Tempat Yunus dan Mustaring menyelamatkan diri dahulu.

Hampir satu jam di air, dirinya berusaha keras untuk sampai ke kapal lain. Tenaga habis.

Dirinya sempat mendengar suara samar-samar minta tolong, dari arah kapal yang ditumpanginya. Kemungkinan itu Thaha. Namun, sudah lemah. Tak banyak yang bisa diperbuatnya.

“Ombak lumayan lah. Karena hujan deras. Ombak tinggi sama angin. Berenang kucing aja saya,” cerita beliau.

Baca Juga :  Akhir Etape ke-10 Pelayaran. Satgas OBS Disambut Meriah Sailing Pass oleh Unsur Lantamal VII Kupang

Akhirnya, dia berada di kapal nelayan lain. Langsung arahkan kapal ke lokasi kejadian. Berharap Thaha masih bisa diselamatkan langsung. Namun hasilnya nihil.

Pukul 07.30 Wita pagi. Sadaruddin dan dua orang temannya yang Selamat bersandar di pelabuhan Berebas Pantai, dan meminta pertolongan ke BPBD Bontang.

Warga asli dari santan ini, berharap banyak pada tim penyelamat. Baik BPBD maupun Basarnas, dan keluarga yang membantu pencarian.

Figur seorang Thaha yang ramah dan santun ini, yang dikenalnya sejak 10 tahun lalu. Sudah dianggap seperti adiknya sendiri.

“Saat di kapal, itu pertama kalinya. Saya makan satu piring dengan Thaha. Sarapan makan bekal saya, malam bekal punya nya lagi kita makan,” ucapnya.

Sadaruddin pun mengaku masih trauma. Bahkan keluarganya melarang untuk aktivitas di laut lagi. Ia juga gelisah saat mau tidur, karena selalu terbayang kejadian saat kapal tanker menghantam kapalnya.

“Saya ini dimarahi sama istri untuk ke laut lagi. Tidak bisa juga bantu cari Thaha. Saya ingat terus kejadian itu” terangnya. (PNM)

  • Bagikan