banner 728x90

COVID-19 DAN PEMILIH KITA

  • Bagikan
banner 728x90

Covid-19 telah memberi dampak besar bagi Pilkada. Dari jadwal yang dimundurkan sampai aturan pertemuan sosialisasi yang diperketat. Itu sudah jamak kita ketahui. Corona ini berdampak banyak dan signifikan. Inilah mungkin Pilkada paling ribet yang pernah kita ikuti. Pertemuan dibatasi, jarak diatur, pelindung wajah atau masker wajib, jam pun berbatas. Padahal Pilkada adalah kerumunan, rapat-rapat, keterbukaan dan perbincangan sampai larut. Semua menjadi antitesa dari aturan-aturan itu. Semua bingung. Apa lagi muncul desakan baru, Pilkada berpotensi menjadi pembantaian massal masyarakat. Pilkada harus ditunda demi kemanusiaan. Energi besar yang telah dikeluarkan harus menguap ke udara. Seperti memberantakkan papan catur di tengah pertandingan. Lalu, disusun dari awal. Dengan skema dan peta baru. Tentu saja para kandidat segera menengadah ke langit. “Ya Allah, Tuhanku Yang Memegang Segala Kuasa, jangan engkau biarkan Pilkada ini tertunda. Sudah terlampau banyak pengeluranku!” Kira-kira begitu doa mereka.

Itu dampak bagi penyelenggaraan. Lalu, apa pengaruh Covid-19 ini terhadap perilaku pemilih kita? Ada hasil survei menarik dari Lembaga Survei Kaltim (LSK) di beberapa daerah yang mengikuti Pilkada serentak. Pertama, akan terjadi pertambahan Golput baru lebih kurang 12%. Mereka-mereka ini adalah pemilih yang selalu menggunakan hak pilihnya di setiap pemilu. Tapi kali ini mengaku kemungkinan sangat besar tidak ikut memilih, takut corona. Jadi, jika mau tahu perkiraan angka Golput, tinggal menambahkan jumlah ini dengan rata-rata Golput yang pernah terjadi.

Baca Juga :  Bagaimana KPU Kukar Sikapi Surat Rekomendasi Bawaslu RI, Soal Pelanggaran Cakada ?

Kedua, terhadap pertanyaan “Seberapa penting Pilkada dilaksanakan di tengah Wabah Corona ini?” Skalanya adalah Sangat Penting, Penting, Tidak Penting dan Sangat Tidak Penting. Hasilnya, angka tidak penting dan sangat tidak penting melampaui penting dan sangat penting. Ini pesan, bahwa minat pemilih terhadap Pilkada kali ini jauh menurun. Corona telah memerosotkan antusiasme pemilih menjadi kekhawatiran. Maka KPUD sebagai penanggung jawab penyelenggaraan perlu membaca temuan ini. Potensi rendahnya voters turn out (partisipasi memilih) perlu dijadikan warning bagi legitimasi Pilkada. Angka Golput tinggi adalah cermin kegagalan KPUD, apa pun dalih dan alasannya.

Baca Juga :  SPNF SKB BONTANG TERAPKAN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN KESETARAAN DENGAN SISTEM KOMBINASI

Ada pertanyaan, kandidat seperti apa yang akan menang dalam situasi buruk ini? Jawabnya sederhana, yaitu kandidat kuat yang mampu meyakinkan pemilihnya untuk menggunakan hak pilih. Memilih dalam pikiran, atau bahkan memilih dalam hati nurani, tapi tidak ditransformasikan menjadi mencoblos di bilik suara tidaklah berguna sama sekali. Memilih adalah mencoblos, bukan berbicara atau berdoa. Jika ini benar, maka kandidat yang terpilih adalah mereka yang jauh hari sudah memiliki modal pemilih besar yang aktif. Pilkada kali ini mayoritas bicara soal nilai ketokohan. Mobilisasi atau rekayasa citra kampanye tidak akan signifikan. Termasuk di dalamnya money politics. Kenapa? Karena kampanye sangatlah ketat dan dibatasi. Pun peluang bertemu langsung dengan pemilih sangat riskan. Ini adalah penjelasan kenapa dalam survei ditemukan 75% – 80% pemilih sudah menentukan sikapnya jauh sebelum hari kampanye yang resmi. Pemilih sudah merasa cukup dengan informasi-informasi awal tentang kandidat. Tidak akan berubah lagi. Situasi ini tidak menguntungkan bagi pendatang baru yang tak memiliki kadar ketokohan di atas rata-rata. Membaca data ini cukup membuat kita miris. Jadi, masa kampanye resmi yang akan menghabiskan uang banyak hanya memperebutkan suara 20% – 25% pemilih? Ya. Setidaknya survei berkata seperti itu. Kita bisa percaya, bisa juga tidak.

Baca Juga :  Bontang Muncul Klaster Baru, Masyarakat diminta Lebih Waspada

Terakhir, apa pesan dari Pilkada yang sepertinya tetap akan dipaksakan digelar meskipun gelombang protes datang dari berbagai arah? Mencoba membaca pikiran Presiden Jokowi, jawabnya adalah kita perlu legitimasi. Dalam perang yang berkecamuk tiada henti pun, pemilihan kepemimpinan tetap perlu diadakan sesuai agenda. Itu adalah tanda bangsa yang hidup. Bagaimana dengan corona? Tak soal, bukankah kita sedang dalam new normal? Kenormalan baru di mana kita akan berdampingan dengan virus? Mempergaulinya dengan wajar seperti kita hidup di tengah-tengah dedemit yang tak kelihatan. Tapi, angka tertular makin menjadi-jadi, korban meninggal pun semakin banyak..?? Ah, sudah, jangan terlalu banyak bertanya. Kita jalani saja hidup ini dengan semua yang ada di depan mata.

Nun wal qolami wamaa yasthurun.

  • Bagikan