banner 728x90

Cara Uang Bekerja dalam Pilkada

  • Bagikan
banner 728x90

Oleh: Andi Ade Elfathir

Bagaimana sogok menyogok bekerja dalam Pilkada? Ada tiga tahapan. Tahap pertama adalah mahar partai. Tahap awal ini simpel. Hitung berapa banyak kursi dipersyaratkan bagi seorang Paslon untuk maju sebagai kandidat. Negosiasi berapa duit per kursi dikali total kursi. Keluar jumlah rupiahnya. Bayar, dan rekomendasi partai keluar. Tahap ini menempatkan pimpinan pusat sebuah partai sebagai penerima sogok tunggal. Demi besaran duit, partai tak peduli siapa kandidat yang direkomendasikan. Ada duit ada surat. Harga tertinggi menjadi patokan. Alasannya simpel, untuk membangun partai dibutuhkan banyak uang. Dari kongres sampai uang saksi. Bahkan sudah menjadi pengetahuan umum, hampir semua caleg yang sukses harus menyogok pemilih untuk menang. Jadi, partai berdarah-darah untuk mendapatkan kursi. Ini justifikasi yang sekilas terdengar masuk akal.

Kedua, membeli ruang waktu dan kekebalan hukum, agar petugas-petugas pemilu, saksi dan oknum aparat hukum tidak melarang kegiatan praktik sogok menyogok yang dilakukan. Tahap kedua ini adalah mengamankan semua potensi sanksi hukum, melancarkan simulasi dan menjaga stabilitas transaksi. Ini mirip prakondisi modus. Pada tahap ini, sogokan sudah agak meluas meski masih terbatas.

Baca Juga :  Pilkada Bontang Berlangsung Ketat

Ketiga, setelah tahap pertama dan kedua aman, barulah desain sogokan pembelian suara rakyat dilakukan. Modusnya beragam. Tapi rata-rata norak. Kumpulkan KTP pemilih melalui tim sukses. Setelah verifikasi, distribusikan uangnya. Jumlahnya beragam tergantung pasar. Ada yang 50 ribu ada pula sampai 350 ribu. Hampir semua orang dari kita pernah dengar adanya pengumpulan fotocopy KTP. Macam-macam istilahnya. Pendataan, survei pendukung atau kupon Pilkada. Ada juga dengan modus lebih rapi. Memakai konsultan, membangun organ dan manajemen sistim distribusi uang yang terukur. Tapi rata-rata strateginya mirip senapan mesin: bayar semua orang di semua penjuru yang bisa dibayar. Jadilah Pilkada itu seperti pasar besar sogok menyogok. Pertunjukan Sinterklas yang mengunjungi orang dari pintu ke pintu. Siapa orang yang tak suka uang? Pemilih kita pun memperhalus dengan pesan bijak, “tak boleh menolak rejeki, ntar kualat.. “

Kita bertanya, kemana perginya hukum dan pengawasan? Pada tahap awal di atas, bukankah sangat mudah melakukan OTT? Transaksinya sangat terbuka. Di hari-hari menjelang pendaftaran kandidat ke KPUD, hampir semua kantor pusat partai disesaki orang daerah yang membawa misi tawar menawar mahar. Di mana pula Panwas? Gakumku dan pemantau-pemantau Pemilu di tahap berikutnya? Kenapa pertunjukan seterbuka ini tak bisa dihentikan atau orang-orangnya ditangkapi? Semua orang angkat bahu. Pilkada demikian kusut dan carut marut. Tak ada yang mau jadi pahlawan. Bahkan yang terjadi adalah berlomba menjadi bagian dari kerumunan penuh minyak itu. Berharap kecipratan. Seperti itu nampaknya.

Baca Juga :  Islam Anti-Kekerasan

Apa yang dihasilkan dari Pilkada seperti itu? Paling jelas adalah keluarnya seorang pemenang dengan beban maha berat di pundak. Dari utang sana sini, aset yang terjual sampai pada komitmen-komitmen kepada cukong yang memodali. Alih-alih menghitung langkah strategi pembangunan dan penyejahteraan rakyat, benak mereka malah dipenuhi bagaimana cara mengembalikan modal, membayar utang dan menimbun tabungan untuk periode kedua.

Rutenya seperti itu. Kita bisa kembali memulai dari Pemilu Legislatif, lalu partai dapat kursi, mahar Pilkada, menyogok penyelenggara, menyuap pemilih, menang, mengangkangi semua sumber yang bisa dijarah untuk modal, ikut lagi Pilkada, lalu kembali lagi ke awal. Siklus itu telah menjadi lingkaran setan yang terus berlangsung. Pilkada kita sudah mirip rimba belantara yang menyingkirkan tokoh-tokoh berkemampuan baik karena tak banyak uang untuk menyogok, dan meloloskan mereka yang tersandera oleh para kapitalis yang mencengkeram melalui uangnya.

Baca Juga :  Apa Yang Perlu Dilakukan di Akhir Tahun

Saya menuliskan ini sehabis berbincang banyak dengan seorang sahabat baik saya yang maju di Pilkada Kabupaten Paser. Beliau maju lewat jalur independen. Saya menulis ini berdasar kesepahaman kami bahwa sogok menyogok pemilih bukanlah perilaku elok. Harus coba kita hentikan dengan keteladanan elit di mana sumber muasal money politics itu datang. Itu adalah penistaan bagi rakyat yang tak tahu apa yang sedang berlangsung. Politik uang adalah parasit buruk bagi masa depan bangsa. Saya menuliskan ini sebagai apresiasi saya terhadapnya. Saya berdoa semoga beliau terpilih dan memberikan yang terbaik bagi rakyat Paser. ***

*) Pengamat Pilkada dari Icon Institute

Baca juga : CURANG

Baca juga : COVID-19 DAN PEMILIH KITA

  • Bagikan