banner 728x90

Bahaya Kekuasaan Politik Turun-Temurun

  • Bagikan
banner 728x90

Oleh : Qqy

Jurnaltoday.id, OPINI -Kekuasaan politik turun-temurun dapat dikatakan serupa dua mata pisau yang kerap menciderai demokrasi.

Namun politik turun-temurun lebih mudah dideteksi karena sangat bertentangan dengan demokrasi, yang mana politik turun-temurun merupakan reproduksi kekuasaan yang primitif karena mengandalkan ikatan genealogis.

Demikian politik turun-temurun lebih mengarahkan pada regenerasi kekuasaan bagi kepentingan golongan tertentu yang bertujuan untuk mempertahankan atau mendapatkan kekuasaan.

Sebenarnya pola kekuasaan politik turun-temurun adalah pola lama atau masih tergolong tradisional, sama seperti kebiasaan yang mengakar pada masyarakat kita.

Baca Juga :  Segera Bertaubat Yang Berani Berbuat Maksiat

Hanya saja jika dahulu pewarisan itu dilaksanakan secara transparan, langsung pada sistem penunjukan, tidak pada saat ini yang mana mengalami sedikit pergeseran cara, dimana pewarisan politik turun-temurun itu dilakukan secara prosedural dan tertutup.

Akan tetapi, pada wajah politik turun-temurun mengalami evolusi cepat sejak pemilihan langsung diselenggarakan yang menyulitkan masyarakat untuk mengindentifikasikannya. Dan ini menambah kekhawatiran pada demokrasi.

kekhawatiran ini menampilkan kecenderungan untuk menjadi turun-temurun, bahkan ketika posisi politik terbuka untuk semua, kedudukan keluarga penguasa akan dianugrahi berbagai keuntungan.

Baca Juga :  Pemimpin Wanita Menurut Kaca Mata Islam

Wajah baru politik turun-temurun dapat dilihat pada orientasinya yang tidak lagi mutlak pada kekuasaan, melainkan lebih menuju kepada kepentingan atau keuntungan yang didapat bagi sebagian golongan.

Inilah salah satu dampak logis dalam otonomi daerah yang menuntut demokratis lokal, yang mana petinggi pemerintahan daerah memiliki pintu untuk mendapat keuntungan lebih terbuka.

Lebih lagi demokrasi lokal merupakan representasi demokrasi suatu negara. Sangat disayangkan apabila ketidaksehatan demokrasi ini terus dibiarkan, sebab kasus ini bukanlah isu baru di perpolitikan kita.

Baca Juga :  Mengenang Peristiwa Malapetaka 15 Januari 1974 (MALARI), Melawan Potret Buram Investasi Dan Catatan Krisis Agraria di Indonesia

Tidak perlu disebutkan satu persatu kasus yang melibatkan kekuasaan politik turun-temurun tersebut karena terlalu maraknya terjadi, bahkan pada pemerintahan manapun.

Pada dasarnya bahwa terdapat tiga hal mendasar dalam motif tindakan politik yakni mempertahankan kekuasaan, menambah kekuasaan dan memperlihatkan kekuasaan.

Lazimnya, untuk mencapai tiga hal itu,segala cara akan dilakukan, persis apa yang pernah disampaikan Niccola Machievelli dalam buku The Prince (Sang Penguasa).

Disclaimer : Opini yang disampaikan, Sepenuhnya Merupakan Tanggung Jawab Penulis

  • Bagikan